Slow Traveler, Buat Liburan Lebih Bermakna Dibandingkan Backpackeran


Traveling penting bagi kesehatan dan psikologi pribadi. Setelah kamu berlibur, kamu akan merasakan badan lebih fresh dan tenang.  Namun, seberapa lama hal tersebut bisa bertahan?

Lanjut, apa lagi yang kamu dapatkan setelah berpengalaman selain hal-hal di atas? Apa hanya foto-foto dari hasil bidikan selama berlibur? Atau hanya buah tangan dari setiap kota yang kamu kunjungi? Yang mana semua itu akan cepat hilang setelah beberapa hari atau bulan setelah berlibur. Atau, makna berlibur hanya untuk mengumpulkan setiap cap yang ada di paspor? Agar orang lain mengetahui bahwa kamu pernah ke tempat tersebut?

Padahal dari manfaat itu semua  ada yang lebih penting, bagaimana kamu dapat merefleksikan apa yang didapatkan selama berlibur ke dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu semua bisa kamu dapatkan dengan gaya slow traveler.

Slow traveler merupakan istilah yang digunakan untuk orang yang melakukan perjalanan dengan santai, dan memaksimalkan seluruh pancainderanya untuk menyerap keindahan local dan berinteraksi dengan warga setempat.

Menjadi slow traveler membuat hidup menjadi lebih bermakna dan lebih banyak bersyukur.  Menjadi slow traveler bukan sebanyak apa objek wisata yang kamu kunjungi. Melainkan pengalaman apa yang kamu bisa petik dari perjalanan.  Jadi, pengalaman berlibur dengan gaya ‘slow traveler’ akan memberikan pengalaman yang berbeda, aktivitas yang beragam dibandingkan liburan biasa.

Tertarik untuk menjadi slow traveler? Berikut ini panduannya untuk kamu yang ingin mencoba slow traveler

1. Tinggal Lebih Lama di Satu Tempat
Jika penganut gaya backpacker biasanya lebih senang menghabiskan enam hari untuk ke empat tempat. Slow traveling lebih memilih menghabiskan waktu enam hari untuk satu daerah atau kota. Sehingga saat beli tiket pesawat, kamu hanya perlu membeli tiket ke satu tempat saja. Hal itu dapat menghemat biaya transportasi saat berlibur. Setibanya di daerah atau kota yang dikunjungi, gunakanlah alat transportasi di sana atau berjalan kaki agar kamu bisa melihat langsung suasana masyarakat setempat.

2. Berbaur Dengan Masyarakat Setempat
Menginap di hotel saat berlibur, memanglah nyaman. Namun, saat Anda sedang melakukan slow traveling, cobalah berkunjung ke suatu daerah di kota yang dikunjungi dan bila diizinkan menginaplah di rumah warga. Tentunya dengan membayar biaya menginap juga ya. Lakukan aktivitas tiap harinya seperti yang dilakukan warga setempat.  Berbincang-bincanglah dan manfaatkan untuk mempelajari budaya setempat. Jika hal itu kamu lakukan, kamu dapat merasakan keramahan dan kenyamanan dari warga setempat.

3. Menikmati Makanan dan Budaya Lokal
Dengan mengunjungi satu tempat dalam waktu yang cukup lama, kamu lebih punya kesempatan untuk mencicipi makanan kuliner di sana. Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah mengunjungi dan makan di resto atau café yang terkenal dan otentik di kota terebut. Bahkan mungkin bisa ikut mempelajari cara membuatnya dan mengetahui asal mula makanan tersebut.

4. Eksplorasi Lingkungan
Jika saat backpacker, kamu mencari tempat wisata yang instagramable atau mencarinya objek yang populer saja. Kini dengan slow traveler kamu bisa menjelajahi tempat-tempat yang jarang dikunjungi para wisatawan sambil menggunakan kendaraan khas daerah setempat.  Kalau beruntung, bisa saja kamu yang dapat membawa tempat itu menjadi populer.

5. Gabung Menjadi Relawan
Sekarang, untuk menjadi slow traveler dan lebih fokus untuk menjadi relawan, kamu dapat bergabung bersama komunitas pengajar daerah terpencil. Biasanya setiap bulan mereka selalu memberikan kesempatan bagi kamu yang ingin menyumbangkan ilmunya untuk masyarakat di daerah terpencil. Meskipun menjadi relawan tak memberikan pendapatan yang besar tapi ilmu yang kamu miliki dapat kamu amalkan untuk mereka yang membutuhkan.  Dan saat itu pula kamu dapat merasakan bahwa hidup lebih bermakna karena dapat bermanfaat bagi orang sekitar.

Waktu yang tepat untuk menjadi slow traveler adalah ketika kamu benar-benar merasakan jenuh saat bekerja mulai tidak bersyukur dengan kehidupan, mungkin saatnya kamu mengambil cuti dan mencoba slow traveling. Prinsip bagi seorang slow traveler adalah bukan soal destinasi yang terpenting. Yang lebih utama adalah pola pikir. Pauline Kenny, seorang pendiri SlowTrav.com menuliskan dalam situsnya bahwa slow travelers berasumsi bahwa mereka tidak harus melihat segalaya dalam sebuah perjalanan, sebab selalu ada kesempatan lain untuk melihat yang belum sempat dilihat. 

Slow traveling dapat dilakukan disemua tempat. Jika ingin mencoba pertama kali menjadi slow traveler, sebaiknya pilihlah lokasi yang masih ada di Indonesia. Agar tidak over budget kamu dapat mulai mencari harga tiket pesawat murah dari sekarang dan memesannya 60 hari sebelum keberangkatan. Berbagai tiket pesawat ke sejumlah destinasi di Indonesia, dapat kamu temukan dan beli di Reservasi.com. Dengan memilih slow traveling perdana di wilayah Indonesia, kamu tak akan kesulitan dalam hal bahasa ataupun rasa makanan yang tidak cocok dengan lidah. Selmat mencoba menjadi slow traveler!
Previous
Next Post »